Gerakan Pembebasan Nasional*

Gerakan Pembebasan Nasional adalah gerakan sedunia yang dimulai antara permulaan dua perang dunia, bagian-bagiannya tumbuh masif setelah tahun 1945, menghendaki penentuan nasib sendiri nasional bagi koloni-koloni kekuasaan imperialis.

Gerakan Pembebasan Nasional tumbuh dari perlawanan pekerja di wilayah-wilayah koloni di masa kebangkitan Revolusi Rusia, umumnya terinspirasi dan dipicu oleh Komintern (Komunis Internasional), dan menyebar ke “Dunia Ketiga” setelah Perang Dunia Kedua, memuncak setelah kekalahan AS di Vietnam 1975.

Di awal-awal abad dua puluh, gerakan-gerakan pembebasan nasional terbesar di dunia mengandung program yang secara lugas borjuis. Di Cina, Sun Yat Sen (1886 – 1925, pendiri Kuo Min Tang, Presiden pertama Republik Cina 1911-12) bertujuan mendirikan republik modern di Cina dan angkat senjata melawan pendudukan tentara Jepang dan Dinasti feodal Manchu.

Partai Komunis Cina didirikan oleh Chen Duxui pada tahun 1925 melawan Kuo Min Tang. Chen Duxui terinspirasi dari Revolusi Rusia dan menolak nasionalisme Sun Yat Sen. Dari tahun 1925 hingga kemenangan akhir Revolusi Cina tahun 1949, perjuangan Cina adalah perjuangan tiga-arah antara Partai Komunis Mao Ze Dong, Kuo Min Tang dan berbagai kekuasaan imperialis, khususnya Jepang yang menduduki banyak wilayah Cina lima puluh tahun sebelumnya.

Pola umum ini juga tercermin, dalam satu dan lain hal. Di banyak negeri-negeri lain. Semua pimpinan-pimpinan awal Revolusi Vietnam, contohnya, dilatih di Komintern, Ho Chi Minh adalah pendiri dari Partai Komunis Perancis.

Tidak banyak kemajuan yang berhasil dimenangkan negeri-negeri dari kuasa kolonial hingga Perang Dunia Dua. Selama Perang, semua Pergerakan Pembebasan Nasional adalah partisipan aktif di dalam Perang, menyekutukan dirinya dengan satu atau beberapa kekautan imperial (pada umumnya pihak Sekutu), dan mengamankan posisi dukungan dan janji-janji bagi kemerdekaan nasional sebagai pengganti kesetiaan mereka. Di Timur, kekalahan kekuatan kolonial lama oleh Jepang merupakan pendorong psikologi yang besar bagi rakyat, membuktikan bahwa Eropa bisa terkalahkan. Setelah Perang, dimana Uni Sovyet melakukan pendudukan di Eropa Timur, Revolusi Cina mengalami surut, kelelahan perang melanda bala tentara imperialis dan terlebih lagi pengharapan sangat tinggi orang-orang kolonial, pergerakan pembebasan nasional menyapu bagai gelombang pasang diseluruh Asia dan Afrika.

DI Vietnam bulan Agustus 1945, penyerahan diri Jepang memantik pemberontakan umum revolusioner dengan pengambilalihan aset lahan besar-besaran oleh massa kaum tani dan pendirian Dewan-dewan rakyat (Sovyet) di seluruh negeri. Ho Chi Minh mendirikan basis-basis di pedesaan bagian Utara, namun tidak melawan kembalinya kolonialis Perancis, mengandalkan janji-janji kemerdekaan dari Presiden AS Harry Truman. Namun secepatnya pula pertempuran pembebasan nasional dimulai. Di Indonesia, Sukarno, (Sun Yat Sennya Indonesia) mendeklarasikan Republik Indonesia. Dalam hal ini, Partai Komunis Indonesia (PKI) melawan kaum Nasionalis dan menyerukan pendirian kembali kuasa kolonial. [PKI masih belum signifikan hingga pemimpin generasi baru di bawah Aidit dan Sudisman muncul dan menyambut pesan-pesan Nasionalis dengan dukungan Cina]

Perang pembebasan di Cina dilakukan oleh tentara kaum tani yang berjumlah besar, dipimpin oleh para intelektual dan pekerja dari kota-kota yang diorganisir oleh Partai Komunis. Setelah mendapat kontrol di pedesaan, Tentara Merah memasuki kota dan di tahun 1949, mendorong tentara-tentara “nasionalis”(yang didukung AS) ke daratan Taiwan.

Di India, eskalasi kerusuhan dan aksi-aksi meluas melawan otoritas Inggris di tahun 1947. Inggris membagi India di tahun 1948 dan menyerahkan kekuasaan pada pemerintah borjuis nasionalis. Di Mesir, perang telah menunda penarikan Inggris, namun monarki Farouk dijatuhkan oleh Nasser di bulan November 1954 dengan dukungan Sovyet, Nasser menasionalisasi Terusan Suez di bulan Juli 1956. Upaya Inggris mengambil kembali kontrol terbukti menjadi kegagalan menyedihkan, dan selanjutnya hingga 14 tahun Nasser menjadi inspirasi bagi Pan-Arabisme.

Pan-Arabisme adalah gerakan sekuler yang mengombinasikan anti-imperialisme dengan advokasi untuk modernisasi melawan Mullah yang perjuangannya didorong sama dengan perjuangan melawan tentara-tentara Inggris dan AS. Dalam hal ini, imperialis mendukung setiap monarki feodalistik atau ulama reaksioner yang ada melawan gerakan Arab progresif dan sekuler. Meski demikian, gerakan Pan Arab satu demi satu membebaskan negeri-negeri Arab dari pendudukan Barat.

Kemenangan rakyat Vietnam atas Perancis di Dien Bien Phu tahun 1956, Revolusi Kuba tahun 1959 (Fidel Castro dan Che Guevara) dan Revolusi Aljazair tahun  1962 (Ben Bella) merupakan kemenangan anti imperialis yang menginspirasi tak saja rakyat di (bekas) koloni, namun juga inspirasi bagi Gerakan Hak-Hak Sipil di AS, contohnya, dimana Orang-orang kulit hitam mengalami rasisme dan kemiskinan serta tak pernah mendapat keuntungan dari imperialisme.

Selama paruh pertama abad kedua puluh, AS menampilkan dirinya sebagai pemenang pembebasan nasional dan lawan dari kolonialisme. Landasannya adalah kebutuhan kapital AS untuk mempenetrasi koloni-koloni yang sebelumnya secara eksklusif dipegang oleh kekuatan kolonial tua Eropa sebagai sumber bahan mentah dan tenaga kerja murah. Ini merupakan kebijakan Neokolonialisme dimana AS menggunakan perdagangan dan perniagaan untuk melemahkan cengkeraman kekuatan kolonial, dan memenangkan kontrol atas pasar tersebut dengan cara-cara ekonomi ketimbang militer.

Kemudian, AS bergerak untuk mendirikan kembali dominasi (Neo-imperialis) dan mengamankan syarat-syarat bagi eksploitasi yang menguntungkan, dimana kekuatan kolonial tua Eropa telah gagal, menginvasi Vietnam di tahun-tahun setelah 1956 dan memblokade Kuba. Saat ini Gerakan Pembebasan Nasional menjadi inspirasi bagi anak-anak muda dan pekerja yang menjadi teradikalisasi akibat perubahan proses ketenagakerjaan dan berakhirnya ledakan ekonomi pasca perang di negeri-negeri imperialis.

Secara umum, peran objektif dan historis dari gerakan pembebasan nasional adalah melindungi kemerdekaan negeri-negeri mereka dari dominasi asing, tak selalu menghendaki suatu revolusi sosial. Memang, di seluruh negeri-negeri ini, kaum proletariatnya adalah minoritas kecil dan kekuatan produksinya belum berkembang atau berkembang dengan timpang dalam memenuhi kepentingan kekuatan imperial.

Dua faktor yang secara khusus penting dimengerti sebagai landasan gerakan pembebasan nasional adalah: kemajuan tenaga produktif dan proses ketenagakerjaan, serta kemenangan Revolusi Rusia. Kolonialisme mulai merosot mulai dari awal abad kedua puluh oleh karena alasan-alasan yang serupa dengan penghapusan perbudakan di Amerika Serikat, yakni kerja paksa dan eksploitasi berbasis kuasa kekerasan menjadi semakin tidak produktif dibandingkan kerja-upahan dan pemanfaatan bagian-bagian kelas pekerja yang memiliki keistimewaan juga borjuis nasional untuk mengorganisasikan produksi.

Namun demikian, keberadaan Uni Sovyet merupakan faktor satu-satunya yang penting yang membuat perjuangan pembebasan nasional bisa dimenangkan, karena memberikan tempat menoleh bagi bangsa-bangsa ini. Akibatnya, cukup banyak dari bangsa-bangsa baru ini berdiri di ditengah kebangkitan perang dunia kedua, memulai tugas pembangunan bangsanya dengan ikatan politik, militer, dan ekonomi yang kuat dengan Uni Sovyet. India dan Indonesia adalah dua pengecualian dimana situasi itu tidak terbukti terjadi setelah upaya luar biasa AS, dan di sini negeri tersebut berkembang di dalam jalur kapitalis. Bahkan di negeri-negeri yang paling bersekutu dengan Uni Sovyet pun, tidak bisa dibilang sebagai negara pekerja, namun negeri-negeri kapitalis dengan sektor negara yang sangat luas. Di Cina dan Kuba, di sisi lain, Partai Komunis tetap menjadi partai penguasa dan hubungan-hubungan pasar tidak berkembang. Namun di banyak kasus, gerakan pembebasan nasional memenangkan tujuannya dengan memenangkan beberapa derajat kedaulatan nasional. Kemerdekaan ekonomi, sebagai esensi kemerdekaan sepenuhnya, adalah hal lain lagi, yang sangat sedikit dimenangkan.

Gerakan Pembebasan Nasional berbeda dengan gerakan pekerja, dan didalamnya meninggalkan berbagai pertanyaan terbuka seperti misalnya kelas mana yang akan memimpin perjuangan nasional—kelas pekerja atau borjuasi nasional. Untuk persoalan tersebut, lihat esai-esai Trotsky Permanent Revolution, Lenin tentang Rights of Nations to Self-Determination, Esai Mao On Tactics Against Japanese Imperialism, Esai Franz Fanon National Culture and the Fight for Freedom, dan Che Guevara’s Message to the Tricontiniental.

Dalam berjuang melawan musuh bersama—imperialisme—pembebasan nasional seringkali bertemu kepentingan yang sama dengan gerakan pekerja dan kaitan yang kuat dengan sosialisme. Namun demikian, gerakan pembebasan nasional masih mengandung represi terhadap gerakan pekerja, dimana borjuis nasional berkuasa dan berkemungkinan mengembalikan lagi bentuk-bentuk penindasan seperti diskriminasi agama, penindasan perempuan, minoritas, dsb. ***

———————————

*Diterjemahkan oleh Kuntsa dari Glossary of Events marxists.org untuk pengetahuan para pendukung Sosialis Papua.

Foto Profil dari admin