Internasionalisme Revolusioner dan Persoalan Nasional (Kebangsaan)

 

 

Fatherland or Mother Earth? Essays on the National Question by Michael Löwy (London: Pluto Press/IIRE, 1998)

Ulasan oleh Paul Le Blanc* di International Viewpoint
Michael Löwy telah memberi kontribusi penting terhadap pemikiran Marxis selama lebih dari tiga dekade. Bagian-bagian dari tulisannya sebelumnya dikumpulkan menjadi tujuh esai tentang nasionalisme dan internasionalisme yang menghasilkan volume tipis ini, diproduksi sebagai bagian serial inovatif oleh International Institute for Research and Education di Amsterdam.

Pendekatan Marxisme Löwy selalu terbuka, vibran, kreatif. Setuju maupun tidak orang terhadap intepretasinya, mereka akan temukan bahwa karya-karyanya selalu menghubungkan tradisi-tradisi intelektual gerakan sosialis dan komunis yang kaya dengan kenyataan kita saat ini yang cair dan mendesak. Juga dapat membantu memperdalam dan memajukan pemikiran baik para aktivis maupun intelektual.

Koleksi ini dua kali pentingnya karena berhubungan dengan trauma-trauma saling berkaitan yang kita hadapi sekarang: konflik etnik mematikan dan konflik nasional yang telah mengobrak-abrik wilayah-wilayah tertentu di Eropa Timur, Asia, dan Timur Tengah; dan ‘globalisasi’ yang dipercepat oleh korporasi-korporasi multinasional penumpuk-profit, yang secara brutal mengabaikan integritas bangsa-bangsa, kebudayaan-kebudayaan, ekologi planet, dan kondisi manusia. Buku ini juga berhubungan dengan beberapa kenyataan paling menjanjikan, yakni perjuangan pembebasan nasional dan ‘internasionalisme baru’ yang berhubungan dengan perlawanan terhadap globalisasi imperialis serta perjuangan untuk keadilan global tetap menandai banyak pengalaman revolusioner di masa kita.

Apa yang disajikan

Dalam esai ’Marx and Engels Cosmopolites—Marx dan Engels yang Kosmopolit, Löwy memeriksa perkembangan internasionalisme Marx dan Engels. Pada periode pra 1848 terdapat tendensi kuat terhadap perspektif anti nasionalis dalam pemikiran mereka, menyatu dengan gagasan internasionalis revolusioner atas satu dunia tanpa batas. Namun “setelah revolusi 1848, pada masa dimana persoalan kebangsaan menampakkan dirinya pada Marx dan Engels dengan segala kedahsyatan dan kompleksitasnya, kedua pengarang Manifesto Komunis itu  mengabaikan problematika kosmopolitan[i] dimasa-masa awal tulisannya sambil mempertahankan internasionalismenya” (p 14).

Esai ‘Marx and Engels Eurocentrists?—Marx dan Engels Eropasentris?” merespon kritik terhadap Marxisme oleh Ephraim Nimni. Nimni melihat Marxisme sebagai suatu doktrin deterministik yang melihat perkembangan Eropa—dari masyarakat perbudakan, ke feodalisme, ke kemajuan kapitalis—sebagai penunjuk arah kedepan bagi seluruh kemanusiaan, memberikan basis pada keniscayaan wujud sosialisme. Terkait hal ini, dikatakan bahwa menurut pemikiran mereka dominasi Eropa atas wilayah-wilayah “terbelakang” bersifat progresif karena akan membantu mereka menjadi modern. Löwy menunjukkan bahwa pandangan semacam ini dapat ditemukan jejaknya di beberapa karya Marx dan Engels. Namun sejak tahun 1850-an mereka—atas dasar pengalaman lebih lanjut—mengembangkan orientasi yang sangat berbeda. Löwy menyimpulkan: “Marx oleh karena itu memformulasikan dua konsep yang akan menjadi landasan bagi teori penentuan nasib sendiri nasional: (i) bangsa yang menindas bangsa lain tidak dapat bebas (Engel menganggapnya ‘kesialan’ bagi seseorang yang berkuasa atas orang lain); dan (ii) pembebasan suatu bangsa tertindas adalah syarat bagi revolusi sosialis bangsa yang mendominasi itu sendiri.” Ia melihatnya sebagai “suatu kompas/penunjuk arah yang tak tergantikan bagi mereka yang mempercayai internasionalisme” (p 28)

‘Debat Marxis tentang Penentuan Nasib Sendiri’ merupakan satu ringkasan esai klasik yang ditulis Löwy tahun 1970-an, ‘Marxis dan Persoalan Nasional (Kebangsaan).’ Gagasan Luxemburg, Lenin, Trotsky dan Stalin diringkas, diperbandingkan dan dipertentangkan dengan tepat. Löwy berpendapat bahwa Lenin memelopori pengembangan suatu “strategi revolusioner, utuh, bagi gerakan pekerja, berdasarkan slogan penentuan nasib sendiri yang fundamental” (p 30), berdasarkan pemahaman adanya “hubungan dialektik antara internasionalisme dan hak penentuan nasib-sendiri kebangsaan”. Ia mengerti, pertama, hanya kebebasan memisahkan diri yang dapat memungkinkan persatuan, perkumpulan, kerjasama yang bebas dan sukarela, hingga dalam jangka panjang juga memungkinkan fusi antar bangsa; kedua, hanya gerakan pekerja bangsa penindas yang mengakui hak penentuan nasib sendiri bangsa tertindas lah yang dapat membantu hapuskan permusuhan dan kecurigaan bangsa tertindas sekaligus menyatukan proletariat kedua bangsa dalam perjuangan internasional melawan kaum borjuis.

Senada denganya, Lenin memahami hubungan dialektis antara perjuangan nasional-demokratik dan revolusi sosialis, dan menunjukkan bahwa massa rakyat (tak saja proletariat, namun juga kaum tani dan borjuis kecil) bangsa tertindas adalah sekutu bagi proletariat yang sadar: seorang proletariat yang tugasnya adalah memimpin perjuangan “massa yang bermacam-macam, beragam, dan sumbang” ini … melawan kapitalisme dan Negara borjuis” (p 40)

Mungkin bagian yang paling kontroversial dalam buku ini adalah “Bangsa sebagai yang senasib: Otto Bauer Hari ini—The Nation as a Common Fate: Otto Bauer Today’. Bauer, seorang pemimpin cerdas sayap kiri Partai Sosial Demokrasi Austria, telah lebih dari sekali menjadi target kritisisme tajam—khususnya terkait persoalan kebangsaan—oleh Lenin, Trotsky, dan kaum revolusioner lainnya. Mungkin orang akan bertanya-tanya, ketika seseorang yang mengidentifikasi dirinya dengan tradisi Leninis-Trotskyist, seperti Löwy, mengakui bahwa Bauer membuat “kontribusi tak ternilai, bahkan yang sangat diperlukan” (p 45). Löwy mengajukan satu pertanyaan penting (p 46): “Ketika hak demokratik untuk penentuan nasib sendiri adalah kaharusan, bagaimana ia dilakukan di teritori dimana bangsa-bangsa betul-betul bercampur tanpa menyulut pertempuran, pembantaian, dan ‘pembersihan etnis’?” (p 46) Ia menganjurkan relevansi proposal Bauer di tahun 1907 dalam Imperium Austro-Hungarian “untuk menjamin semua kebangsaan (Hongaria, Jerman, Czechs, Slovaks, Korasia, dll.) ‘otonomi kebudayaan-nasional’: yang akan memberikan setiap komunitas nasional kesempatan untuk mengorganisir dirinya sebagai suatu kerjasama publik yang legal, dalam derajat tertentu menjamin otoritas kebudayaan, hukum, dan administras,” (p.45).

Nasionalisme dan Internasionalisme kaya dalam gagasan-gagasannya. Diantaranya adalah perlunya solidaritas antar kelas-kelas pekerja di negeri kapitalis maju dengan kelas pekerja di negeri kapitalis pinggiran. Ia mengutip Trotsky: “Jika kita mengambil Inggris dan India sebagai jenis tipe kapitalis yang terpolarisasi, lalu kita berkewajiban mengatakan bahwa internasionalisme proletariat Inggris dan India sama sekali tidak terletak pada kesamaan kondisi, tugas-tugas dan metode, melainkan pada saling ketergantungan yang tak terpisahkan di antara mereka” (p 55). Poin lain yang ditekankan Löwy adalah “sekalipun internasionalisme sosialis beseberangan dengan ideologi nasionalis, namun sama sekali bukan berarti bahwa ia menolak tradisi-tradisi kebudayaan dan sejarah bangsa-bangsa”.

Ia menjelaskan: “sama halnya dengan pergerakan internasionalis di negeri masing-masing harus bicara bahasa nasionalnya, mereka juga harus bicara bahasa sejarah nasional dan budaya mereka; khususnya, tentu saja, ketika kebudayaan ini  sedang ditindas. Seperti yang diakui Lenin, setiap kebudayaan dan setiap sejarah nasional mengandung elemen-elemen demokratik, progresif, revolusioner, yang harus diintegrasikan oleh kebudayaan sosialis gerakan buruh; dan elemen-elemen reaksioner, chauvinistik, dan doktriner yang harus dilawan tanpa kompromi. Tugas internasionalis adalah menggabungkan warisan sejarah dan nasional pergerakan sosialis dunia dengan kebudayaan dan tradisi rakyatnya, dalam dimensinya yang paling radikal dan subversif—seringkali dirusak oleh ideologi borjuis atau disembunyikan dan dikubur oleh kebudayaan resmi kelas-kelas penguasa. Sama halnya dengan kaum Marxis di dalam perjuangan revolusioner mereka harus sangat memperhatikan formasi sosialnya sendiri, (sehingga) dalam perjuangan ideologi mereka tak dapat abaikan keistimewaan nasional kebudayaan dan sejarahnya sendiri” (p 60-61).

Dua esai terkahir, ‘Kenapa Nasionalisme?’ dan ‘Internasionalisme abad dua puluh satu’ menyatakan dengan tegas bahwa: “dari fusi antara tradisi gerakan buruh sosialis internasional, demokratik, dan anti imperialis—yang masih begitu hidup dikalangan kaum revolusioner berbagai tendensi, seperti aktivis serikat buruh radikal dan sosialis kiri—dengan kebudayaan universal gerakan sosial baru seperti ekologi, feminisme, anti rasisme, dan solidaritas Dunia Ketiga lah internasionalisme masa yang akan datang bangkit”. (p 80)

Metode Marxis

Ada beberapa jenis Marxisme, beberapa diantaranya dekat dengan metode kritis yang digunakan Marx ketika ia mencoba mengembangkan sosialisme ilmiah. Almarhum Isaac Deutscher, dalam bukunya Stalin, A Political Biography (New York: Oxford University Press, 1967, p 118), dengan lihai membedakan metode Lenin dari banyak kaum Bolshevik lainnya di tahun–tahun sebelum 1917:

Mereka menerima beberapa formula dasar filosofi Marxist, yang diwariskan pada mereka dari yang mempopulerkan doktrin tersebut, sebagai suatu kesenangan intelektual dan politik.  Formula ini tampak menawarkan bukti-bukti hebat. Para semi intelejensia, yang darinya sosialisme mendapat sebagian kadernya, menikmati Marxisme sebagai suatu alat hemat-tenaga mental, gampang digunakan, dan luar biasa efektif. Dirasa sudah cukup dengan menekan tombol disini lalu bekerja sedikit untuk satu ide, dan tombol yang disitu untuk membuang ide lainnya. Pengguna gawai hemat-tenaga ini jarang merefleksikan penelitian sulit yang mendahului penemuan mereka. Tidak pun ia tunjukkan keinginan merefleksikan riset yang tampak tak praktis dan satu waktu akan membuat gawainya usang. Pengguna gawai intelektual Marxisme, mungkin karena terbiasa, memperlakukan barang miliknya dengan gaya utilitarian (azas manfaat) yang sempit. Tak seperti banyak pengikutnya, Lenin adalah murid yang kritis dalam laboratorium pikiran. Seringkali, pada akhirnya, ia mengubah temuannya menjadi berguna secara politik; dan temuannya tak pernah menggoyahkan pendirian Marxisnya. Namun ketika ia tenggelam dalam penelitian, ia melakukannya dengan pikiran terbuka dan bebas kepentingan.”

Pendekatan yang digunakan Deutscher adalah pendekatan Marxis-nya Lenin yang kreatif dan kritis. Dikalangan anggota Bolsheviks (dan aliran-aliran sosialis Rusia lainnya) lebih lazim pendekatan yang lebih dogmatik dan deterministik, menempatkan tekanan lebih besar pada faktor-faktor ekonomi dan politik yang “objektif”.

Contohnya, organiser nomer-dua dan agitator dalam partai Bolshevik, Joseph Stalin (sebelum kehancuran politiknya sebagai seorang tiran birokratik dan pembunuh), memainkan peran sentral dalam membantu mengembangkan posisi resmi organisasi tentang Marxisme dan Persoalan Kebangsaan. Ini adalah judul pamflet yang ditulis Stalin pada tahun 1913, berkonsultasi dengan beberapa kawan, termasuk Lenin. Menurut Stalin, “suatu bangsa bukanlah sekadar kategori historis, melainkan suatu kategori historis yang berada pada epos khusus, epos kemunculan kapitalisme”. Pamflet Bolshevik menawarkan suatu ukuran objektif terhadap apa yang disebut sebagai bangsa: “Sebuah bangsa terbentuk secara historis, komunitas masyarakat yang stabil, terbentuk atas dasar kesamaan bahasa, teritorial, kehidupan ekonomi, dan susunan psikologi, berwujud dalam suatu kebudayaan bersama.”

Selama bertahun-tahun pamflet tersebut dilihat sebagai suatu pernyataan kunci posisi Bolshevik. Namun, bahkan dengan dukungan Lenin, karya Stalin itu berbeda dengan pikiran-pikiran Lenin. Stalin belum sanggup melampaui pendekatannya yang kurang dialektik dan kurang kreatif. Dalam dua tahun, Lenin mulai melihat kebutuhan untuk memperluas pemikiran Bolshevik tentang nasionalisme melampuai batas-batas yang dipetakan oleh kawannya yang secara teoritik terbatas itu.

Hal ini membawa kita pada suatu tinjauan polemik buku Löwy yang ditulis oleh Doug Lorimer, seorang anggota Democratic Socialist Party (DSP), kelompok kecil tapi penting di Australia, dalam jurnal Links, dalam judul ‘Marxisme or Bauerite Nationalism?’

Polemik dan realitas

Menurut polemik Lorimer, “Löwy secara eksplisit menolak teori bangsa Marxisme ilmiah, materialis karena bersetuju pada teori bangsa-bangsa subjektif (idealis) sebagai ‘komunitas terbayang (Benedict Anderson) atau kreasi kultural (Eric Hobsbawm),’ suatu teori yang beken di kalangan intelektual”. Tekanan Löwy pada keutamaan kesadaran dari orang-orang tertindas dalam menentukan apakah mereka suatu bangsa atau bukan adalah hal yang menurut Lorimer tidak konsisten dengan apa yang Lorimer istilahkan sebagai “teori Marxisme yang ilmiah dan materialis tentang bangsa”, dan contoh dari Marxisme yang diambil oleh Lorimer adalah Marxisme dan Persoalan Kebangsaan karya Stalin.

Namun terdapat perbedaan mendalam antara formula Stalin tahun 1913 dengan formulasi Lenin yang lebih dinamis dan vibran dalam tulisannya di tahun 1914-1916, saat di waktu yang sama ia merevitalisasi Marxismenya (dengan cara yang tak pernah bisa dilakukan Stalin) membenamkan dirinya dalam tulisan dialektis Hegel. Lenin, seperti Löwy, memahami kebenaran dialektis bahwa yang objektif dan subjektif menyatu dalam kesadaran dan perjuangan kelas pekerja dan rakyat tertindas. Nasionalisme rakyat tertindas yang  berjuang untuk kebebasannya secara kualitatif berbeda dari nasionalisme mereka yang ikut serta dalam menindas rakyat lain—kaum revolusioner harus selalu mendukung yang pertama melawan yang terakhir. Hal ini melampaui kerangka pendekatan Stalin yang (diklaim)  lebih “objektif”—dan itu tidak konsisten dengan kebijakan yang dimajukan Stalin di masa rejim Soviet awal tahun 1920-an (ketika ia dan Lenin yang sakit-sakitan bertentangan sangat tajam terkait persoalan kebangsaan didalam federasi Republik Soviet yang baru).

Melandaskan dirinya tepat pada metode dialektis Lenin dan Marx, Trotsky melanjutkan hal ini lebih jauh di penghujung tahun 1930-an—dalam diskusi dengan CLR James—ketika ia mencoba mengerti realitas pengalaman dan perjuangan Afrika-Amerika. Meletakkan jarinya pada saling pengaruh antara pengalaman Afrika dan Afrika-Amerika, ia mengatakan: “Kaum Negro adalah suatu ras, bukan suatu bangsa. Bangsa-bangsa timbul dari material rasial dibawah kondisi yang spesifik. Kaum negro Afrika belumlah menjadi sebuah bangsa, namun mereka dalam proses membentuk sebuah bangsa. … Kita tentu saja tidak mengharuskan Negro (di AS) menjadi sebuah bangsa; apa (diri) mereka merupakan suatu persoalan kesadaran mereka sendiri, yakni, apa yang mereka kehendaki dan apa yang mereka perjuangkan.” Ia menambahkan: “Dibanyak kasus, represi terhadap kaum Negro mendorong mereka menuju pada persatuan politik dan nasional.” (Lihat Leon Trotsky dalam Black Nationalism and Self-Determination, ed. by George Breitman (New York: Pathfinder Press, 1978), p 24]

Tantangan Baru

Realitas selalu lebih kompleks ketimbang teori, dan realita juga telah berkembang dan terus menerus menantang Marxis revolusioner dan para aktivis yang serius.

Definisi Bloshevik klasik yang melihat persaudaraan antar rakyat sebagai landasan persaudaraan kebangsaan tampak tidak dapat memenuhi semua kompleksitas nasionalisme modern. Negara-bangsa modern yang berkembang di era revolusi borjuis-demokratik di akhir abad 18 dan 19 menekankan bahwa kewarganegaraan bertentangan dengan etnisitas sebagai basis bagi nasonalisme—dengan tekanan pada hak yang sama di dalam bangsa bagi seluruh warganya, tak perduli ras, suku bangsa, dan asal nasional orang. Memang, menyertakan faktor ras dan etnik ke dalam konsep bangsa atau kewarganegaraan, merupakan ciri khas aliran-aliran intelektual reaksioner di Eropa.

Khususnya negeri seperti Amerika Serikat—yang oleh penyair Walt Whitman dinyatakan dengan bijak sebagai ‘suatu bangsa dari bangsa-bangsa’—kenyataan nasional selalu, dan terus, multi-kultural, multi-etnik, multi-rasial. Juga terdapat penindasan besar—kadang mengambil bentuk prasangka “keaslian” dan kadangkala mewujudkan dirinya sebagai suatu ‘asimilasionalisme’ elitis dan umumnya diwajibkan ke dalam norma White Anglo-Saxon Protestant (WASP). Namun demikian, ini jauh dari apa yang disebut ‘rumah tahanan bangsa-bangsa’ Kerajaan Rusia yang oleh Lenin dan kaum Bolshevik hendak dijatuhkan.

Kenyataannya, orang percaya bahwa konteks kerajaan multinasional Astro-Hongaria boleh jadi tak selalu persis sama dengan formasi sejarah Rusia. Bagi orang yang hidup di satu ‘bangsa dari bangsa-bangsa’ seperti Amerika Serikat, upaya Marxist Otto Bauer untuk mengharmonisasi suatu kenyataan multi-kultural ke dalam kerangka negara-bangsa seharusnya tidak—hanya karena ia menjauh dari ‘ortodoksi’ Bolshevik—diabaikan. Pada kenyataannya, dengan proses ‘globalisasi’ yang memasukkan dinamika multi-etnik dan multi-kultural yang kompleks ke dalam populasi yang semakin terdiri dari sejumlah bangsa-bangsa, tentu saja sangat berharga memberi pertimbangan pada upaya-upaya tersebut, terlepas apakah seseorang akan berujung menyetujui kebijakan yang diajukan Bauer.

Globalisasi memberi tantangan lain pada kaum Marxis dalam bergumul dengan ‘persoalan kebangsaan’ di abad 21. Restrukturisasi ekonomi politik global terus terjadi yang dilakukan oleh korporasi multi-nasional, persetujuan-persetujuan dagang multi-lateral, dan institusi-institusi ekstra-nasional seperti Dana Moneter Internasional, Bank Dunia, Organisasi Perdagangan Dunia, memunculkan pertanyaan tentang masa depan negara–bangsa. Untuk itu, bagaimana mereka yang terlibat dalam gerakan buruh di berbagai negara, dan gerakan keadilan global, menemukan cara untuk mengharmonisasi taktik-taktik mereka, strategi, dan tujuan-tujuan dengan dialektika yang kompleks dari nasionalisme/internasionalisme?

Buku Michael Löwy enak dibaca, penuh pertimbangan, dan tantangan, tidak mengandung semua jawaban. Namun ia memberikan sumber-sumber intelektual—informasi tentang masa lalu, gagasan tentang bagaimana mengaitkannya dengan saat ini, suatu contoh yang baik tentang bagaimana menggunakan metode dialektika—akan membantu kita menjawab tantangan tersebut. ***

*Paul Le Blanc telah bertahuan-tahun menjadi guru dan aktivis di Pittsburgh. Tulisannya termasuk “Lenin dan Partai Revolusioner” dan “Sejarang Singkat Kelas Pekerja AS”.

**Diterjemahkan oleh Kuntsa untuk pengetahuan para pendukung Sosialis Papua

[i] kosmopolitan/kos·mo·po·li·tan/ a 1 mempunyai wawasan dan pengetahuan yang luas; 2 terjadi dari orang-orang atau unsur-unsur yang berasal dari pelbagai bagian dunia

Foto Profil dari admin