Respon Diskusi Terbuka Tentang Sosialisme di Papua

Yason Ngelia*

“Tuan, menurut saya Sosialisme Papua adalah sebuah gagasan sebagai solusi perjuangan kita. Lama sekali kita menunggu sosialisme sebagai sebuah karakter perjuangan kita. Semua orang akan mengetahui bahwa perjuangan Papua telah ada digaris yang sesuai. Warna kita tidak akan lagi kabur oleh pandangan masyarakat luas. Kita akan mengatakan bahwa kita berada di kiri dan bukan ke kanan yang liberal”.

Terima kasih untuk tuan Victor Yeimo, ketua umum KNPB dan tuan Sam Awom, ketua umum Garda-P yang telah mendorong diskusi tentang sosialisme Papua dan tujuan besarnya bagi bangsa dan tanah kita Papua. Saya sudah membaca tulisan pada web Sosialis Papua, bahan diskusi itu, dan paling tidak saya sudah sedikit memahami pikiran dari tuan berdua sebagai penggagas forum sharing gagasan Sosialisme di Papua. Karena jarak tempat, sehingga saya menulis pikiran saya tentang  gagasan sosialisme itu sendiri, sebagai respon terhadap diskusi terbuka tersebut.

Tuan berdua, perlu diketahui, selama terlibat sebagai aktifis mahasiswa hingga telah keluar dari kampus, tidak bersentuhan langsung dengan organisasi politik (faksi) tertentu, dalam arti menjadi kader faksi secara langsung. Berbagai proses organisasi seperti pendidikan politik (dikpol) untuk memahami cara kerja organisasi hingga ideologi politik, atau berbagai dikpol serupa, tidak saya lalui sebagai seorang kader. Sehingga mungkin saja saya tidak dapat memahami lebih jauh tujuan gagasan Sosialisme ini bagi organisasi tuan berdua.

Namun demikian, bukan berarti saya tidak dapat memahami maksud dan tujuan Sosialisme yang sedang didiskusikan. Sewaktu masih dibangku SMA Merauke, secara tidak langsung saya dikenalkan pada sejarah tokoh Marxisme Kuba “Ernesto Che Guevara”. Semenjak itu saya selalu penasaran dengan gagasan dan gaya  perjuangan dari Che dan guru politik sekaligus rekan seperjuangan Fidel Castro.

Pengenalan itu membuat saya selalu penasaran dengan berbagai gagasan dan ideologi yang berhubungan dengan kedua tokoh di atas. Sehingga mendorong saya mempelajari jejak perlawanan beberapa negara dengan sosialismenya, seperti Rusia, kuba, Venezuela, Cina, dan negara lainnya yang berhubungan dengan ideologi tersebut dan masih terus mempelajarinya. Terlepas dari suatu sistem negara, saya juga menaruh perhatian kepada gaya berjuang tokoh-tokoh yang mempunyai peran dalam pergerakan negaranya itu.

Sehingga saat melihat dan membaca gagasan pada website khusus ini (Sosialis Papua). Ada rasa antusiasme dalam diri saya, namun juga ada rasa penasaran, seperti apa nantinya Sosialisme kita? Bagaimana kita memulai? ataukah hanya akan habis di kalangan intelektual muda Papua? Tuan, menurut saya Sosialisme Papua adalah sebuah gagasan sebagai solusi perjuangan kita. Lama sekali kita menunggu sosialisme sebagai sebuah karakter perjuangan kita. Semua orang akan mengetahui bahwa perjuangan Papua telah ada digaris yang sesuai. Warna kita tidak akan lagi kabur oleh pandangan masyarakat luas. Kita akan mengatakan bahwa kita berada di kiri dan bukan ke kanan yang liberal.

Kita tidak berjuang untuk merdeka dan setelahnya menjajah rakyat kita dengan sistem yang timpang. Namun kita berjuang untuk menciptakan suatu sistem yang dapat memberikan kehidupan yang baik dan keadilan bagi rakyat kita. Hal  itu pasti akan tercipta di dalam gerakan Sosialisme Papua ala kita.

Untuk menerapkannya tentu tidaklah semulus yang kita bicarakan ini. Sebab gerakan ini selain sebagai sebuah aliran teori dan praktek, juga sebagai sebuah konsep tandingan bagi kapitalisme dan imperialisme barat di abad ini. Ini adalah sebuah gagasan  besar dunia yang selalu bersinggungan hingga kini. Hanya ada dua pilihan bagi rakyat kita di Papua. Dua pilihan itu adalah, liberal Demokrasi atau Sosialisme Demokrasi. Masa depan rakyat kita sedang dipertaruhkan dengan kedua gagasan ini. Sehingga bagaimana kita sebagai pejuang bergegas dan mulai mengarahkan perjuangan kita.

Sosialisme Papua yang telah tuan berdua awali terlihat seperti itu. Sebab di Papua banyak pejuang yang telah mempelajari bagaimana Sosialisme dan gerakannya. Telah menyebut dirinya seorang Marxis atau seorang kiri. Mempelajari berbagai fariannya dan membanggakannya. Namun belum tentu bersikap dalam perjuangan. Sebab perjalanan seorang yang hanya membanggakan Marxisme tidak akan berjalan lebih jauh dari seorang pejuang dan mayoritas rakyat yang diorganisir dengan ilmu yang sama. Tuan berdua adalah Tokoh Sosialisme baru di Papua, dengan karakter perjuangan yang baru pula.

Saya berharap kita bersama akan melangkah, berjuang dan memenangkannya. Paling tidak konsistensi kita akan membawa kemenangan ideologi ini, juga mengalakan praktek kapitalisme Barat dan hegemoni Indonesia pada rakyat Papua.

Tuan, menurut saya, pentingnya sebuah pendidikan awal tentang sosialisme itu. Jangan sampai semua orang yang melakukan perlawanan terhadap Kapitalisme dan imperialisme Amerika, disamakan dengan pejuang Sosialisme Papua. Walaupun benar bahwa Sosialisme adalah gerakan melawan praktek dan kerja Imperialime Amerika dan negara sekutunya. Namun perlu juga diketahui bahwa wilayah kawasan timur tengah berpenduduk umat muslim, juga mengumandankan perang terhadap imperialisme global. Tetapi mereka tidak memperjuangkan Sosialisme namun sebuah negara Islam. Itu adalah hal yang jauh berbeda.

Sebab Sosialisme adalah sebuah gagasan anti kapitalisme dan Imperialisme yang berjuang untuk kehidupan dan kesetaraan warga masyarakat dalam negara. Sosialisme adalah sebuah aliran dari paham yang dimotori oleh Karl Max, dan semua fariannya. Perjuangan sosialisme adalah ideologi perjuangan yang diusahakan dengan berbagai cara, baik dari yang lunak hingga yang keras. Konsep itu harus mendapat dukungan dari masyarakat, itu adalah perjuangan sosialisme sebenarnya.

Menjadi pertanyaan sekarang, apakah kita memperjuangkan Sosialisme Papua, ataukah hanya sebuah bungkusan dari perjuangan primodialisme kita yang terus tumbuh secara alamiah itu?

Ada suatu contoh lain; Di Indonesia ada sebuah partai politik electoral yang dipimpin oleh seorang anak mantan Presiden pertama Indonesia. Setelah puluhan tahun kematian ayahnya itu dia selalu bereuforia dengan gaya kepemimpinan ayahnya. Apakah partai dari anak ini disebutkan sebagai partai Sosialisme? Tentu saja tidak. Sebab rakyat tidak tahu menahu tentang partai itu, partai bukan milik rakyat tetapi memiliki kelompok elit borjuis. Banyak juga organisasi pemuda yang bereuforia dengan pemimpin pertama negara ini, bahkan berafiliasi dengan partai anaknya. Apakah gerakan mahasiswa pemuda ini dapat disebutkan sebagai gerakan sosialisme yang masih berjuang untuk rakyat? Tentu saja tidak, itu mungkin saja tempat mencari makan bagi kelompok pemuda tersebut.

Seperti itulah partai PDIP milik anak Ir Soekarno bernama Megawati. Bagaimana dengan partai electoral lainnya di Indonesia apakah mereka ada yang menjadi partai rakyat atau partai Sosialis. Jawaban semuanya adalah milik kelompok borjuis bukan partai sosialis. Hal tersebut dapat kita lihat dari praktek dan kerjanya selama ini.

Hal ini menjadi penting untuk diingat bagi kita, agar tidak bergerak dengan  suatu hal yang sama serupa seperti poin diatas. Sosialisme adalah perlawanan kita. Kita tidak berjuang atas nama pribadi, suku, kampung, tetapi sebagai sebuah bangsa dengan kebudayaan baru, yaitu sosialisme Papua. Mengapa sosialisme Papua adalah kebudayaan baru? Perlu kita pahami bahwa sosialisme kesukuan atau tradisional telah terbentuk dalam kelompok-kelompok kecil suku bangsa Papua yang hampir 300an suku ini. Tidak ada acara yang dapat mempersatukannya. Selalu ada alasan untuk meninggikan masing-masing kelompok ini (premodialisme).

Akan datang pertanyaan, tentang bagaimana kenyataan hari ini, bahwa adanya solidaritas yang tinggi antara sesama dari berbagai suku di Papua. Adanya kolaborasi dalam struktur dan organisasi. Adanya toleransi antara suku bangsa di Papua. Sangat perlu kita menyadari bahwa nasionalisme kita terbentuk karena sebuah penindasan bersama. Nasionalisme kita kelihatan dipermukaan karena Indonesia sebagai musuh bersama kita. Persatuan kita itu sebenarnya semu, hal seperti ini biasa terjadi pada bangsa tertindas di mana saja.

Dalam sistem kepemimpinan tradisional di Papua, telah adanya identifikasi tentang 4 gaya kepemimpinan, yang secara tidak langsung berdampak pada perjuangan modern kita. Apakah hal ini adalah poin untuk kita  mempertanyakan persatuan kita? Tentu saja harus. Sebab dalam penjelasan yang telah Tuan berdua uraikan tentang bagaimana proses dialetika materialis suatu bangsa dan kaitannya dengan Papua, kita ketahui berada pada zaman yang disebut dengan nama palleoliticum atau batu mudah. Adanya penemuan, bahwa lompatan sejarah yang luar biasa sangat mempengaruhi sykologis, hingga gaya berjuang kita. Kepemimpinan dalam kelompok-kelompok perjuangan juga dapat kita nilai berdasarkan karakternya.

Sosialisme ala Yesus

Namun ada sebuah sejarah lain yang mengisahkan bagaimana orang Papua itu akhirnya bisa menyadari identitas kepapuaan itu. Yaitu peristiwa masuknya injil kristus. Terlepas dari pro dan kontra bahwa masuknya injil adalah awal dimana penjajah itu mengusai manusia dan alam Papua. Kita tidak mungkin menyalahkan dan membenarkan segalanya, seolah-olah berita pengabaran injil tidak ada konsekuesnsi seperti itu. Injil kristus masuk mengenakan sebuah identitas baru yaitu nasionalisme 300an suku di Papua, bahkan menanamkan benih-benih sosialisme dalam kehidupan rakyat.

Jika Injil masuk membawah kebudayaan baru bagaimana bisa ada kesimpulan, bahwa persatuan hari ini adalah sebuah identitas semu? sebab Injil adalah sebuah kebudayaan tentang, bagaimana kehidupan bersama, ibadah bersama, pelayanan bersama seperti yang diajarkan Yesus. Namun pergesaran ajaran Yesus yang benar dan hakiki itu berdampak pada Sosialisme ala Yesus tersebut. Di Papua dalam prakteknya, Injil selalu dikaitkan dengan kargoisme masyarakat asli. Siapa saja boleh menerjemahkan injil dengan berbagai ragam makna dalam kepercayaannya pribadi hingga suku. Hal ini sebenarnya adalah praktek kolonialisme yang tumbuh didalam berbagai denominasi gereja. Rakyat disuruh Mentuhankan Yesus, namun sejauh paham dan perintah yang ditanamkan oleh organisasi gereja.

Berbedah dengan saya memandang Yesus. Bagi saya Yesus tidak terbatas sebagai Tuhan yang esa, yang susah dipahami. Tetapi Yesus adalah Tokoh Revolusioner yang nyata. KehidupanNya sebagai pejuang bangsa Yahudi hingga kematiannya adalah bukti yang tidak dapat di tafsir sesuka hati oleh kaum “rabi” di Papua. Saya yakin Tuan berdua sepakat dengan pernyataan ini?

Tuan berdua, Rakyat Papua mayoritas kristen, harus disatukan dalam perjuangan Sosialisme yang berlandaskan nilai-nilai ini. Janganlah kuatir kita bukan bangsa pertama yang akan menerjemahkan Sosialisme ala Yesus ini, Venezuela dan beberapa negara Amerika latin telah melakukannya. Hugo Chaves sebagai Tokoh yang banyak berkomentar tentang ini bukan?

Penting bagi kita mengetahui bahwa “Sosialisme Yesus” telah dipraktekan jauh sebelum Karl Max mematenkannya dalam teori dan prakteknya. Walapun ada perbedaan yang hakiki antara kedua,  yaitu theology dan materialisme namun pada praktek dan perjuangannya memiliki persamaan nilai yang tidak bisa dipisahkan.

Hal yang terutama dan paling utama juga harus kita pahami bahwa Sosialime ala seorang Yesus, tidak ada hubungan dengan bentuk negara yang sedang diperjuangkan . Kita tidak sedang memperjuangkan negara Kristen atau negara dengan aliran kepercayaan tertentu. Sebab dalam prakteknya Yesus tidak membangun sebuah gagasan bangsa dan negara. Berbeda hal dengan aliran  samawi Nabi Muhamad, yang mendirikan sebuah negara Islam bersamaan dengan penyebarannya. Untuk itu Kristen bukanlah ideologi dan tidak akan mungkin menjadi ideology negara kita.

Arnol AP

Arnol Clemens Ap tidak dapat kita jauhkan dari gagasan dan perjuangan ini. Sebab keberagamaan suku bangsa yang ada di Papua ini mampu di satukan secara emosional oleh Arnold Ap dan grup musik Mambesak. Persatuan emosional sebagai suatu bangsa yang bernama Papua itu adalah periode kedua nasionalisme Papua setelah masuknya Injil sebagai awal peradaban. Keberagamaan suku bangsanya serta kebudayaan Sosialisme yang sangat primordial ini mampu di eratkan. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi tanpa tanpa kolaborasi dua gerakan ini. Sehingga memungkinkan kita membangun sebuah bangsa dan negara dengan ideologi Sosialisme ala kita.

Tanpa itu apak kita dapat memerdekakan Papua? Tentu saja bisa. Namun saya pesimis menjadi bangsa yang besar seperti yang kita inginkan. Mungkin saja Papua merdeka, dan setelah itu setiap suku dapat membentuk negaranya sendiri, dengan praktek desentralisasi atau otonomi seluas-luasnya (serikat). Sebab di eropa praktik negara dengan wilayah kecil dan homogenitas seperti ini dinilai sangatlah tepat.

Contoh yang tepat adalah Indonesia, sempat menjalankan sistem pemerintahan serikat berdasarkan usulan Pemerintah Belanda, dengan pertimbangan  bahwa nusantara adalah bangsa yang memilki kebudayaan yang sangat beragam. Namun dirubah kembali oleh Ir Soekarno menjadi negara kesatuan berbentuk republik. Apa yang terjadi Kini, praktek dan teori kesatuan Indonesia ini tidak mampu berjalan secara konsisten, apa lagi menyejahterakan rakyat Indonesia. Hingga kini kita lihat, Indonesia hanya dapat disatukan dengan kekuatan militer, bukan sebaliknya karena kekuatan konstitusi dan praktek bernegaranya.

Maksud saya konsep dan gagasan kebudayaan Papua secara nasional tanpa menghilangkan nilai-nilai dari Yesus itu sendiri adalah gagasan sosialisme yang perlu di dorong, sebagai periode ketiga dalam perjuangan. Sebab Otonomi khusus tahun 2001 telah berhasil membuat rakyat Papua mundur jauh, kembali pada sikap primodialisme itu sendiri.

Karakter dan Ciri Gerakan Sosialisme

Tuan berdua, ini poin terakhir, saya menyambut baik diskusi Sosialis Papua, sebagai suatu langkah awal. Saya berharap ada forum-forum diskusi yang yang secara terus mengkonsolidasikan bukan hanya semua aktivis yang telah bersentuhan paham ini, tetapi para aktivis yang masih juga awam. Ini amatlah penting bagi bangsa jajahan. Sebab marxisme dan fariannya adalah ilmu pengetahuan yang diperuntukkan untuk rakyat tertindas. Sebagaimana ilmu pengetahuan, tidak akan pernah berguna apa bila tidak dikenal-kan, dipahami, bahkan hingga dipraktekan dalam gerakan perjuangan.

Sosialisme Papua harus dikenal dan hidup di masyarakat, sebab sosialisme adalah gerakan rakyat bawah, bukan semata-mata gerakan kaum intelektual. Saya yakin Sosialisme tidak akan berguna jika menjadi diskusi dan perdebatan intelektual. Kita mungkin saja dapat membuat gagasan sosialisme ala kita, bahkan hingga dijadikan ideologi suatu negara Papua kelak. Tetapi mungkin saja kita hanya akan membuat karakter negara yang otoriter dan sewenang-wenang, sebab socialisme kita sosialisme yang tidak hidup pada rakyat Papua.

Alangkah baiknya, sebelum kita berbicara jauh tentang negara dan konstitusi yang berasaskan sosialisme. Terlebih dahulu membangun gerakan rakyat sosialisme di Papua, yang berjuang dengan ciri-ciri sosialisme. Perjuangan yang menunjukkan karakter perjuangan sosialisme, seperti mengkonsolidasikan rakyat untuk berjuang secara sectoral, membangun serikat-serikat rakyat, serikat-serikat pemuda mahasiswa mahasiswa, tingkatkan forum-forum yang berbicara tentang Sosialisme itu sendiri. Bahkan Menghamburkan selebaran ideologis tentang sosialisme itu sendiri. Sebab dengan perjuangan dan karakter seperti ini kita dapat berbicara banyak tentang negara Sosialisme.

Jakarta, April 201

**Yason Ngelia adalah Koordinator Gerakan Mahasiswa, Pemuda dan Rakyat (GempaR) Papua.

Foto Profil dari admin
  • Kami berpendapat sosialisme vs kapitalisme/ liberal sudah kedaularsa gara-gara Rusia Runtuh akhir 1990-an dan kapitalisme Amerika runtuh akhir taun 2008 lalu, keduanya sudah tidak berjaya dan sudah angkat tangan, kleim dan rhetoric keduanya sudah tidak dapat dijadikan sebagai basis argumen. Kita masing-masing diajak, sebagai umat manusia berbudaya, dan berakar di adat kita, untuk “kembali pokok”, dan tidak memutar nostalgia lama yang terbukti tidak sukses, baik dalam teori mereka maupun dalam praktek mereka memimpin telah nyata mereka tidak berhasil membuktikan apa yang mereka sendiri teorikan, dan mereka juga gagal dalam proyek modernisasi, baik lewat pemusatan dan individualisme, maupun dengan pendekatan distribusi sumber produksi dan kolektivisme/ kebersamaan sosial. Jadi apakah perjuangan Papua Merdeka berbau sosialis? padahal kita secara budaya realitasnya berbasis communal-capitalist? Ini menjadi bahan buat kita terus bernalar dan berwacana, sehingga kita tidak mengejar dari belakang isu dan teori yang sudah usang, tetapi berada di antara sekalian retorika dan diskusi ilmiah sehingga dapat turut mengambil bagian dalam wacana-wacana di pentas global.