Sosialisme Melanesia Vanuatu

Adalah Sosialisme Melanesia, sebuah ideologi  yang diyakini oleh pendiri negara, yang juga Perdana Menteri Pertama Vanuatu, Walter Lini. Walter Lini menggambarkan filosofi Pemerintahannya yang memadu strategi pembangunan dengan sosialisme Melanesia. Sosialisme Lini berasal dari pribumi dan oleh karena itu ia menggambarkannya sebagai “Melanesian Socialism”. Lini menegaskan bahwa dalam sosialisasi dan budaya, ia dan rekannya adalah tetap dari produk sosialisme melanesia.

Sosialisme Melanesia digunakan Lini untuk menggambarkan ideologinya yang berasal dari masyarakat adatnya sendiri. Lini tidak menggunakan sosialisme radikal seperti pemimpin-pemimpin sosialis lain di dunia. Ia tidak mengimpor ideologi. Lini menunjukan bahwa ajaran dan praktek sosialisme Melanesia sudah didahului oleh Marx dan Lenin. Dia memberi contoh kebijakan pertanahan pemerintahannya untuk menggambarkan hal ini: “Tanah ada untuk digunakan oleh masyarakat untuk kebutuhannya”. Ini adalah didefiniskan sebagai prinsip sosialis, tetapi hal itu sudah kami praktekan ratusan tahun sebelum Marx, Engels, atau Lenin dilahirkan, apalagi mendengar”.

Lini mengecam peran kolonialisme dan dan peran nilai-nilai asing dalam mengubah masyarakat Vanuatu. Oleh karena itu, agar konsisten, ia merasa perlu untuk menekankan bahwa sosialismenya adalah Melanesia yang alamia dan asli. Selanjutnya, Lini memisahkan keyakinan sosialisnya dari “komunisme”. Lini tidak mau menyamakan atau diidentifikasi sebagai varian dari Soviet. Lini justru menyebut istilah komunis sebagai “Komunalisme Melanesia atau, lebih sering, “Sosialisme Melanesia.

Lalu apa itu Sosialime Melanesia? Lini telah menguraikan prinsip-prinsip yang mendasarinya. Aspek yang paling menonjol adalah nilai-nilai Melanesia. Ini adalah keyakinan budaya bangsanya; mereka telah ada dalam bentuk asli sejak pra kontak awal, tetapi diubah dalam banyak cara dan berbagai derajat oleh pemerintahan kolonial.

Keyakinan Kardinal pada Sosialisme Melanesia secara pedas dapat digambarkan dengan menyandingkan mereka terhadap kapitalis, rekan-rekan anti-tesis: komunalisme versus individualisme, berbagi versus kepentingan, humanisme versus materialisme. Apa istilah tersebut bagi Lini? Komunalisme adalah “didasarkan pada kesadaran masyarakat di mana individu tidak mempertimbangkan dirinya atau kepentingan pribadainya diutamakan dari kepentingan umum dari masyarakat.

Berbagi didasarkan pada kemampuan seseorang untuk melakukannya. Menerima didasarkan pada kebutuhan seseorang. Memberi-Menerima ini resep yang sama dengan hubungan imbalan-kerja Marxist: “dari masing-masing sesuai kemampuannya, untuk masing-masing sesuai dengan kebutuhannya,” tetapi berbeda dari yang ditemukan dalam konstitusi Soviet: “Akhirnya, dalam kamus Sosialisme Melanesianya Lini, humanisme mengacu pada mengurangi penekanan materialisme dalam hubungan-hubungan manusia menekankan “kasih sayang dan kebersamaan.”

Banyak fitur doktrinal Sosialisme Melanesia yang mirip dengan dasar-dasar ajaran Kristen. Lini, bagaimanapun, tidak berpikir bahwa Pekebun Eropa, Administrator, dan misionaris adalah Kristen sejati. “Sementara agama Kristen lebih banyak sesuai dengan etika dan prinsip-prinsip sosialisme melanesia yang menekankan pada kebersamaan, kasih sayang, dan kepedulian satu sama lain, itu adalah praktik yang tidak banyak dilakukan oleh orang Eropa”.

Ia mengutuk banyak misionaris terkini karena gagal untuk memahami atau menerima praktik spritual Melanesia: “Praktek yang memiliki nilai sosial dan spiritual yang nyata dilarang oleh banyak misionaris penduhulu agama kristen”. Lini, bagaimanapu, mencatat bahwa dalam bentul idela mereka, nilai-nilai etika Kristen memiliki kesamaan yang banyak terhadap nilai-nilai Melanesia. Hal ini tidak terlalu dibuat-buat, karena itu, untuk mengasumsikannya dia meliahat ajaran Kristen sebagai sosialis yang sama dengan budaya Melanesia. Seperti Lini, banyak pendiri dan aktivis dalam partainya, the Vanuatu Pati (yang memelopori perjuangan kemerdekaan), dihadiri Sekolah-sekolah denominasi Kristen dan Perguruan Tinggi teologi. Di antara anggota parlemen Vanuaaku Pati dan Menteri Kabinet sebagian besar berasal dari Pender

Sumber utama lain dari Sosialisme Melanesia terpancar dari Papua New Guinea (PNG), dimana pada awal tahun 1970an sebuah tantangan yang radikal terhadap penguasa kolonial dipasang untuk kemerdekaan. ideologi nasionalis PNG diwakili oleh istilah “Melanesian Way”. Pendukung utamanya adalah Pastor John Momis dan Bernard Narokobi, yang menganjurkan restrukturisasi masyarakat dan pemerintahan PNG secara radikal setelah kemerdekaan.

Beberapa siswa asli Vanuatu yang kemudian menjadi anggota eksekutif Vanuaaku Pati di Vanuatu kuliah di Universitas Papua New Guinea, yang kemudian menjadi sarang radikalisme antikolonial di Pasifik Barat Daya. Terkait dengan sumber PNG adalah hubungan orang Tanzania. di Fakultas UPNG, terutama yang konsentrasi di sekolah hukum, memiliki dosen asing yang berpengaruh dengan pengalaman yang luas di Tanzania dan bersimpati pada keyakinan sosialis Julius Nyerere. Beberapa orang-orang ini mendirikan hubungan penasehat dengan nasionalis radikal dari PNG.

Setelah kemerdekaan PNG, beberapa orang ini melakukan perjalanan ke Vanuatu, dimana mereka menyajikan para nasionalis Vanuatu dalam konstitusi dan persoalan-persoalan politik. Selama perjuangan kemerdekaan Vanuatu, beberapa nasionalis Vanuatu mengunjungi dan mencari pelatihan dan saran di Tanzania. “Efek kumulatif dari faktor Tanzania telah jelas dalam membentuk aspek kebijakan Vanuatu. Dalam pidato Perdana Menteri Lini sering mengacu pada “pikiran yang baik dari kawan saya Nyerere.

Lebih substantif, seperti Tanzania dan PNG, Vanuatu telah mengumumkan kode kepemimpinan yang luas yang menghasilkan banyak kemiripan dengan Deklarasi Arusha dan sistem desentralisasi untuk kekuasaan pengambilan keputusan yang lebih dekat dengan rakyat. Selanjutnya, versi Tanzania dari Sosialisme Afrika telah memiliki banyak dampak yang berorientasi pada kebijakan luar negeri dari gerakan nonblok. Bukan kebetulan, kemudian, untuk menemukan kemiripan anatara tampilan dari Sosialisme Melanesia dan Sosialisme Tanzania dalam kaitan dengan nonblok dan kritik kapitalisme dan imperialisme.

Bersama-sama, kemudian, sumber-sumber eksternal Sosialisme Melanesia -Kristen, Ideologi nasionalis (“the Melanesian Way”), dan faktor Tanzanian- ketika ditambahkan ke aspek budaya egaliter Melanesia menjadi kompas ideologis bagi kebijakan-kebijakan Vanuaaku Pati ini. Jelas, Sosialisme Melanesia tidak semata-mata Melanesia. Yang pasti, budaya Melanesia menekankan egaliter tradisional dan prinsip-prinsip meritokratis (suatu masyarakat yang diperintah oleh suatu pemerintahan dari orang-orang yang dipilih atas jasa-jasa dan kemampuannya) dalam penugasan kekuasaan dan pengambilan keputusan secara kolektif.

Tetapi yang jelas peranan Kristen, Sosialis Afrika (Tanzania), dan Melanesian Way (cara Melanesia) adalah faktor-faktor yang telah mempengaruhi praktek institusional seperti Pemerintah daerah dan desentralisasi, organisasi partai, kode kepemimpinan, dan kebijakan luar negeri. Bagi Lini dan partainya, bagaimanpun, itu adalah penting untuk menggaris bawagi kekhasan Sosialisme Melanesia, terutama dalam kaitannya dengan legitimasi perubahan sosial yang diarahkan oleh kebijakan pemerintah.

Disadur Oleh Victor Yeimo

====

1. H. Fraser, “Accusations Fly in Libya Trip Wrangle,” Pacific Islands Monthly, January 

1987, 19. 

2. W. Lini, Statement to the 38th Session of the United Nations General Assembly (New 

York, 1983), 7-8. 

11. W. Lini, Beyond Pandemonium: New Hebrides to Vanuatu (Suva, 1980), 14. 

12. Lini, Statement to the 38th Session, 9. 

14. See R. Premdas, “Papua New Guinea: Internal Problems of Rapid Political Change,” 

Asian Survey 15, no. 12 (1975): 1054-1076. 

128 Pacific Studies, Vol. 11, No. l–November 1987 

15. See B. Narakobi, The Melanesian Way (Suva, 1983). 

 

Foto Profil dari admin